Senin, 16 April 2012

Air Zamzam


Pernah pada 1971, seorang doktor menulis surat kepada European Press yang mengatakan bahwa air Zamzam tidak cocok untuk diminum. Surat itu jelas merupakan tanda prasangka terhadap kaum Muslimin. Pernyataannya ini berdasarkan bahwa Kabah merupakan suatu tempat di bawah permukaan laut dan berlokasi di pusat kota Makkah, maka air limbah kota itu berkumpul melalui tetesan-tetesan air lalu merembes ke dalam sumur hingga akhirnya meresap ke dalam air Zamzam.
Berita ini sampai ke telinga Raja Faisal, yang memicu kemarahannya. Raja memutuskan untuk menolak pernyataan provokatif sang doktor. Diperintahkannya Menteri Pertanian dan Sumber Daya Air untuk meneliti dan mengirim sampel air Zamzam ke laboratorium Eropa untuk dilakukan pengujian kelayakan minum. Menteri lalu menugaskan Otorita Jeddah dan Tanaman Desalinasi guna menjalankan tugas ini.Seorang peneliti Thariq Husain yang bekerja sebagai a desalting engineer (insinyur kimia untuk menghasilkan air minum dari air laut) ditunjuk untuk memimpin proyek ini. Ia segera pergi ke Makkah. Ketika sampai di sumur tersebut, sulit bagi Thariq untuk mempercayai bahwa sekolam air, yang berukuran kira-kira 6 x 4,5 meter merupakan sumur yang menyuplai jutaan galon air setiap tahun untuk para jamaah haji dan penziarah, sejak kehadirannya pada zaman Nabi Ibrahim as.

Bersama dengan asistennya ia segera memulai penelitian. Mula-mula mereka mencari apakah di dalam sumur Zamzam tersebut terdapat jalan masuk air baik itu berupa celah sempit ataupun saluran pipa yang menghubungkan sumur tersebut dengan sumber air Zamzam. Dengan menggunakan shower yang digerakkan ke setiap sudut sumur diketahui bahwa tak satu pun jalan masuk ataupun pipa yang menghubungkan sumur tersebut dengan sumber airnya.
Akhirnya, Thariq mengambil alternatif lain. Ia memindahkan air sumur Zamzam itu ke dalam sumur lainnya dengan pompa alih yang besar. Maksudnya, untuk menurunkan tingkat permukaan air sehingga memudahkannya mencari titik masuk air. Semula upaya itu tidak berhasil. Namun ia mengulangi lagi karena merasa tidak ada metode lain selain metode tersebut. Dengan penuh kehati-hatian, Thariq dan asistennya mengulangi cara itu. Beberapa saat kemudian, asistennya yang turun ke dalam sumur menemukan sesuatu. Ia merasakan pasir di bawah kakinya bergerak dan memancarkan air di sekeliling dasar sumur. Karena itu, permukaan air tetap stabil. Setelah menyelesaikan penelitian, Thariq mengambil sampel air Zamzam untuk diuji di laboratorium Eropa.

Sebelum meninggalkan Kabah, ia menanyakan kepada otorita setempat tentang sumur-sumur lain di seputar Makkah. Mereka menjawab, sumur-sumur tersebut kebanyakan kering. Sesampainya di Jeddah, Thariq melaporkan hasil temuannya kepada atasannya yang mendengarkan dengan penuh perhatian namun membuat komentar yang sangat tidak rasional. Menurutnya sumur Zamzam secara internal bisa dihubungkan dengan Laut Merah. Padahal, bagaimana mungkin itu terjadi padahal Makkah jaraknya sekitar 75 km dari laut dan sumur yang berlokasi sebelum kota lazimnya tetap kering? Perbedaan antara air Zamzam dan air pada sumur lainya terletak pada kandungan kalsium dan garam magnesium. Kandungan zat-zat ini setidaknya lebih tinggi dalam air Zamzam. Inilah barangkali mengapa air Zamzam menyegarkan para haji yang kelelahan. Tapi yang lebih signifikan, air itu mengandung flouride yang punya daya efektif membasmi kuman penyakit. Bahkan, ulasan dari laboratorium Eropa menunjukkan bahwa air tersebut layak minum.

Ini merupakan suatu rahmat, hasil studi ini menunjukkan komposisi kimiawi air Zamzam yang amat bermanfaat untuk manusia Sebenarnya, semakin kita menggalinya, semakin banyak keajaiban yang muncul. Di sinilah letak keagungan Allah. Ia mengaruniakan suatu hadiah bagi orang yang beriman yang datang dari jauh dan meluaskan tanah padang pasir bagi para penziarah.



Ciri-ciri yang terkandung dalam sumur Zamzam adalah:
1. Sumur ini tak pernah kering, sebaliknya senantiasa penuh.
2. Mengandung komposisi garam dan cita rasa yang sama sejak kemunculannya. Serta Potabilitas (kelayakan untuk diminum)nya senantiasa diakui secara universal oleh para jamaah haji dari seantero dunia yang mengunjungi Kabah setiap tahun untuk haji dan umrah.
3. Cita rasa air berbeda-beda di setiap tempat sedangkan daya tarik air Zamzam selalu universal.
4. Air ini tidak pernah diolah secara kimiawi atau diklorinasi, sebagaimana air-air yang ada di kota-kota. Biasanya tumbuhan muncul di banyak sumur. Ini menyebabkan air rusak lantaran pertumbuhan algae yang menyebabkan masalah cita rasa dan aroma. Namun dalam kasus sumur Zamzam, tidak ada pertumbuhan biologis.

Inilah keajaiban yang berasal dari ratusan tahun yang silam, ketika Sayyidah Hajar as mencari air di antara bukit Shafa dan Marwa untuk diminumkan kepada Hazrat Ismail as yang baru lahir. Ketika ia lari dari satu ke tempat lain mencari air, anaknya menendang-nendangkan kakinya ke pasir. Seketika itu juga, berkat rahmat Allah , air menyembur keluar dari bawah kaki Ismail as dan membentuk kolam. Inilah yang kita kenal sebagai air Zamzam.
Beberapa Khasiat Air Zamzam

Dikatakan menurut beberapa kitab seperti Al-‘Aqdus Sam’în dan Tahdzib Al-Asma’ wa al-Lughât bahwa air Zamzam akan menghasilkan pengaruh tertentu kepada si peminum sesuai dengan niatnya. Dikabarkan dalam Zadul Ma’ad bahwa ketika Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah sakit, dan waktu itu tidak ada obat dan dokter, ia segera mengambil air Zamzam, membaca al-Fatihah sebelumnya, dan meminumnya. Akhirnya, ia pun sembuh. Pengalaman serupa juga dialami oleh Jalâl al-Dîn al-Suyuthi. Berkat air Zamzam, ia berhasil mencapai kedudukan keilmuan yang tinggi dalam bidang ilmu fikih dan ilmu hadis. Tentu saja, untuk mendapatkan keberkahan dari air Zamzam itu disyaratkan adanya niat yang ikhlas dan keyakinan akan kekuasaan Allah.

Seorang sahabat Nabi saw yang dikenal sebagai ulama di masanya, yakni Ibn ‘Abbas, diceritakan mendapatkan tiga keberkahan dari air Zamzam yaitu kefakihan akan ilmu, keluasan rezeki, dan tiadanya penyakit selain penyakit ketuaan. Sekaitan dengan adab meminum air Zamzam, Ibn ‘Abbas menyarankan agar ketika kita minum air tersebut, kita menghadap kiblat, membaca basmalah, meminumnya, dan setelahnya mengucapkan hamdalah. Sebaiknya pula tidak diminum langsung sekaligus habis. Upayakan minum seteguk demi seteguk seraya bergantian membaca basmalah dan hamdalah.

Dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar